<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Indputra's Weblog</title>
	<atom:link href="http://indputra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indputra.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 May 2008 22:55:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='indputra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Indputra's Weblog</title>
		<link>http://indputra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://indputra.wordpress.com/osd.xml" title="Indputra&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://indputra.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sosok &#8221;Orang Lain&#8221; dalam Sastra Bali Modern</title>
		<link>http://indputra.wordpress.com/2008/05/30/sosok-orang-lain-dalam-sastra-bali-modern/</link>
		<comments>http://indputra.wordpress.com/2008/05/30/sosok-orang-lain-dalam-sastra-bali-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 22:55:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indputra.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Penampilan sosok &#8220;orang lain&#8221; (the other) sebagai tokoh sentral cerita atau puisi sudah lama muncul dalam sastra Bali tetapi sifatnya sporadis. Lihatlah misalnya tokoh Cina dalam &#8220;Geguritan Sampek Eng Tay&#8221; (1915). Dalam karya-karya mutakhir, seperti cerpen &#8220;Ketemu ring Tampaksiring&#8221; karya Made Sanggra, pembaca menjumpai tokoh orang Belanda. Selain sebagai tokoh cerita, sosok &#8220;orang lain&#8221; itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=36&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="0" width="380">
<tbody>
<tr>
<td><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Penampilan sosok &#8220;orang                 lain&#8221; (the other) sebagai tokoh sentral cerita atau puisi                 sudah lama muncul dalam sastra Bali tetapi sifatnya sporadis.                 Lihatlah misalnya tokoh Cina dalam &#8220;Geguritan Sampek Eng                 Tay&#8221; (1915). Dalam karya-karya mutakhir, seperti cerpen                 &#8220;Ketemu ring Tampaksiring&#8221; karya Made Sanggra, pembaca                 menjumpai tokoh orang Belanda. Selain sebagai tokoh cerita,                 sosok &#8220;orang lain&#8221; itu juga menjadi fokus tema, sarana,                 serta arena penjabaran estetika.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;"><strong>SASTRAWAN</strong> Bali modern yang dengan sadar dan berulang-ulang menggunakan                 sosok &#8220;orang lain&#8221; sebagai fokus dalam karyanya adalah                 Windhu Sancaya. </span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Hal ini bisa dilihat dari kumpulan puisi dan                 cerpennya yang baru terbit, yaitu &#8220;Coffe Shop&#8221; (2003),                 yang sudah ditetapkan sebagai penerima Hadiah Sastera Rancage                 2004. Sosok asing yang ditampilkannya umumnya orang Barat                 termasuk turis. Selain itu ada juga sosok dari etnis Cina. </span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Dominannya karya yang menampilkan sosok &#8220;orang lain&#8221;                 ini menjadi salah satu ciri khas kumpulan                 &#8220;Coffe Shop&#8221;, yang tidak dijumpai dalam karya-karya                 sastrawan Bali lain. Salah satu sosok &#8220;orang lain&#8221;                 yang dijadikan sajak oleh Windhu adalah Roelof Goris. Doktor                 Jawa Kuna dari Belanda ini datang pertama ke Indonesia pada 1926                 dengan tugas mempelajari bahasa-bahasa daerah terutama Jawa Kuna                 di Indonesia. Dia berkantor di Batavia. Ketika itulah, dia                 sempat jalan-jalan ke Bali tahun 1926 dan 1927 serangkaian                 dengan kunjungan sastrawan India, Rabindranath Tagore ke Bali.</span><span id="more-36"></span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Mulai 1928, Goris mendapat                 pos di Bali sampai tahun 1939, dengan berbagai tugas utamanya                 mempelajari sastra Jawa Kuna, prasasti, adat, dan agama Bali.                 Dia termasuk orang yang menentang program misionaris di Bali.                 Selama di Bali, dia menetap antara lain di Singaraja dan Bangli.                 Tahun 1940-an, Goris sempat bolak-balik Jakarta-Holland. Setelah                 kemederkaan, Goris menetapkan hati untuk menjadi orang                 Indonesia. Dia kembali ke Bali tahun 1950-an, bekerja di Lembaga                 Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan (kini menjadi Balai                 Penelitian Bahasa). Tahun 1951, Goris sempat mengajar di SMA dan                 SGA Singaraja. Banyak sastrawan dan intelektual Bali dekat                 dengannya, antara lain Wayan Bhadra dan Panji Tisna.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Setelah memasuki masa                 pensiun tahun 1958, Goris mengabdikan dirinya menjadi pustakawan                 di Fakultas Sastra Udayana yang baru dibangun. Di Fakultas                 Sastra inilah dia kemudian menjadi &#8220;research profesor&#8221;.                 Tugasnya antara lain mengajar sejarah (Bali kuna) dan epigrafi.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Goris meninggal 4 Oktober                 1965, dikuburkan di Denpasar, yang kemudian dipindahkan ke                 Mumbul. Fakultas Sastra terus mengenang jasa Goris, buktinya                 setiap HUT Faksas, warga Faksas mengadakan kunjungan suci ke                 kuburan Goris di Mumbul. Jasanya sebagai ilmuwan dan dosen (bukan                 dekan) yang berpengetahuan dalam dikenang sampai kini. Bukunya                 &#8220;Sejarah Bali Kuna&#8221; (1950) dan &#8220;Bali Atlas                 Kebudayaan&#8221; (1953) banyak diacu para sarjana.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Prestasi akademik Goris                 itulah yang tampaknya memukau Windhu Sancaya untuk menciptakan                 puisi berbahasa Bali berjudul &#8220;Roelof Goris&#8221;. Dari                 sajak ini terkesan bahwa Windhu kagum terhadap &#8220;orang asing&#8221;                 yang begitu menguasai ilmu bahasa Bali dan mengajari orang Bali                 ilmu bahasa Bali. Berbeda dengan penyair lain yang biasanya                 mendedikasikan puisinya kepada tokoh yang dikagumi, Windhu                 langsung menjadikan tokohnya sebagai judul sajak.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;"><strong>Goris dan Helen</strong><br />
Sajak &#8220;Roelof Goris&#8221; terdiri dari lima bait dan dengan                 tepat memotret sosok kecendekiaan Goris dan jasanya pada                 pengetahuan sejarah Bali kuna. Beginilah sajak itu dibuka:                 &#8220;titiang tan tandruh/ rumasa ring beloge kalintang&#8221; (saya                 tak tahu apa, terasa terlalu bodoh). Pembukaan yang merendahkan                 diri ini adalah hal biasa dalam sastra Bali (tradisional) karena                 hanya dengan demikian penyair bisa melambungkan tokohnya ke atas                 dengan puja-puji.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Pada bait ke-3, Windhu                 menulis kehebatan Goris sebagai ilmuwan yang karyanya dianggap                 sebagai sinar yang menerangi jalan untuk mengetahui sejarah Bali                 kuna: &#8220;ring lawat sastrane panggihin titiang/ pemargine                 tumus/ kasujatianne manguranyab/ mengendih/ manyunarin/ ngawinan                 prasida mamanggihin margine ring purwakala&#8221; (dalam sastra                 saya menjumpai/ sejarah lengkap/ kebenarannya bersinar/ menyala/                 menyinari/ makanya bisa diketahui sejarah masa lalu).</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Tentang apa yang                 dipelajari dari buku sejarah kuna Goris, sajak itu menulis:                 &#8220;ring purwakala/ titiang manggihin nateng bali sri ugrasena,                 udayana-gunapriya/ anak wungsu/ sriaji jaya pangus./ katatwan                 sameton ring wawengkon bintang danu/ tenganan pageringsingan,                 bebetin, serai, srokadan./ suksmane kalintang-lintang&#8221; (di                 masa lalu/ saya menjumpai raja Bali Sri Ugrasena,                 Udayana-gunapriya, Anak Wungsu, Sriaji Jaya Pangus. Filsafat                 masyarakat Bintang Danu (Kintamani), Tenganan Pagringsingan,                 Bebetin. Serai, Srokodana.Banyak-banyak terima kasih). Kekaguman                 penyair terhadap Goris juga disampaikan dengan ungkapan &#8220;yukti                 sutindih ring pulina bali&#8217; (sungguh berani membela Pulau Bali).                 Komitmen Goris membela adat dan budaya Bali mungkin merupakan                 refleksi sikapnya yang anti-misionaris walau penyair tidak                 secara eksplisit mengungkapkan dalam sajak ini.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Sajak penghormatan kepada                 sarjana Barat yang begitu teguh meneliti bahasa-sastra Bali juga                 diciptakan Windhu untuk Dr. Helen Creese (ahli Jawa Kuno,                 Australia), Nyoman Umbara (nama samaran sarjana Parancis yang                 tengah berusaha menyusun kamus Bali-Perancis), dan Tuan Willem                 van Der Mollen (Belanda). Sarjana ini adalah orang-orang yang                 dikenal dekat. Windhu, misalnya, pernah membantu Helen untuk                 menstranskripsikan sejumlah naskah kuna. Sajak &#8220;Helen                 Creese&#8221; mengibaratkan Helen sebagai &#8220;sesapi putih&#8221;,                 ungkapan yang tidak saja menimbulkan asosiasi kepada orang yang                 berkulit putih tetapi juga kepada sosok dinamis berwawasan luas.                 Windhu melukiskan: &#8220;sesapi putih makebur nuju kaler kangin/                 mengindang kampidnyane kebah/ ngigel maelogan/ ngulangunin/                 suarannyane alit nyeksek ring keneh/ solahnyane alep tan                 pakrisikan/ manahnyane jimbar nguub sadaging jagat&#8221; (sesapi                 putih terbang utara-timur/ berputar-putar sayapnya mekar/ menari                 gemulai/ mengagumkan/ suaranya halus masuk sukma/ lagaknya kalem                 diam). Burung sesapi ini dikontraskan dengan &#8220;paksi gagak&#8221;                 yang bulunya penuh lumpur dan terbang ke arah selatan (arah yang                 cemar). Kontras ini tak hanya mempertegas sosok yang ditonjolkan                 tetapi juga membuat struktur puisi &#8220;Helen Creese&#8221;                 terasa indah.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Helen sering datang ke                 Bali, antara lain untuk penelitian dan seminar. Dia memang                 pendiam, tapi disegani sejawatnya karena karyanya banyak antara                 lain buku &#8220;Parthayana, The Journeying of Partha, an                 Eighteenth-century Balinese Kakawin&#8221; (KITLV, 1998). Yang                 mengenalnya akan merasa bahwa sajak Windhu dengan tepat                 menggambarkan sosok Helen yang pendiam tetapi lincah ibarat                 &#8220;burung sesapi&#8221; dalam dunia ilmu.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;"><strong>Pengkontrasan</strong><br />
Sajak-sajak Windhu dan cerpennya yang menampilkan orang asing                 tak hanya menambah tema-tema baru ke dalam khasanah sastra Bali                 modern, tetapi juga menunjukkan eksplorasi estetik penciptaan                 puisi berbahasa Bali. Salah satu pola estetika yang bisa                 ditangkap dalam karyanya adalah pengkontrasan gagasan seperti                 &#8220;cerdas vs tidak tahu&#8221; dalam sajak &#8220;Roelof Goris&#8221;                 dan &#8220;sesapi putih vs burung gagak&#8221; pada sajak                 &#8220;Helen Creese&#8221;. Estetika berpola kontradiktif ini juga                 terasa dalam sajaknya yang lain.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Pilihan Windhu menampilkan                 sosok &#8220;orang lain&#8221; dalam karyanya karena dia percaya                 terhadap pepatah &#8220;gajah di pelupuk mata tidak terlihat,                 semut di seberang lautan tampak jelas&#8221;. Pandangan Windhu                 ini bisa disimak dari baris terakhir sajaknya yang berjudul                 &#8220;Coffe Shop&#8221; yang berbunyi &#8220;ipun manggihin                 tityang saking doh!&#8221; (dia menemui saya dari jauh). Yang                 dimaksud dengan &#8220;ipun&#8221; tentu adalah Goris, Helen                 Creese, Van Der Mollen, dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Sosok &#8220;orang                 lain&#8221; dalam sajak-sajak Windhu agak berbeda dengan yang                 tampak dalam karya sastrawan lain, misalnya cerpen Made Sanggra                 &#8220;Ketemu ring Tampaksiring&#8221;. Tokoh Belanda dalam cerpen                 ini digunakan pengarang untuk mengungkapkan sisi humanis masa                 kolonial. Kalau penjajahan sering dikaitkan dengan penindasan,                 perang atau gerilya, dalam cerpen ini Made Sanggra justru                 mengungkapkan romantisme, pernikahan antara tentara Belanda                 dengan wanita Bali dan pertemuan tak terduga anak-anak mereka                 setelah lama berpisah. Pengenalan identitas ini juga mencegah                 terjadinya perkawinan adik-kakak alias inses.</span></p>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Perlu segera dicatat bahwa                 perbedaan penggambaran sosok &#8220;orang lain&#8221; dalam sastra                 Bali modern bukan karena yang satu tampil dalam puisi, sedangkan                 yang lain dalam cerpen atau novel, tetapi lebih pada niat                 sastrawan dan narasi atau puisi yang dihasilkan. Dalam literatur                 postkolonial, &#8220;orang lain&#8221; cenderung dianggap ancaman                 (threat), dalam karya-karya sastrawan Bali yang dibahas di atas,                 &#8220;orang lain&#8221; adalah cermin (mirror) untuk mengenali                 budaya dan jati diri Bali. Penelitian terhadap lebih banyak teks                 sastra Bali modern yang menggambarkan sosok &#8220;orang                 lain&#8221; tentu akan bisa memperkuat atau menggugat kesimpulan                 sementara ini.</span></p>
<p><strong><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">* darma putra</span></strong></p>
<p>sumber:http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2004/2/15/ap3.html</p>
<p align="left">
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indputra.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indputra.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indputra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indputra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indputra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indputra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indputra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indputra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indputra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indputra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indputra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indputra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indputra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indputra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indputra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indputra.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=36&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indputra.wordpress.com/2008/05/30/sosok-orang-lain-dalam-sastra-bali-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c65a9dac30f3287301cb883dd9cd31?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">indputra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Puputan Tanpa Kesimpulan</title>
		<link>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/cerita-puputan-tanpa-kesimpulan/</link>
		<comments>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/cerita-puputan-tanpa-kesimpulan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 04:27:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indputra.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Buku tentang Puputan Badung dari persepektif Belanda dan Bali. Tanpa kesimpulan jadi pilihan mengambang. Peringatan seabad perang antara Belanda dan kerajaan Badung diperingati di Denpasar, Bali Rabu pekan lalu. Ribuan orang mengiringi arak-arakan Gerebek Aksara sepanjang sekitar 100 km dari Karangasem ke Denpasar. Selain mengarak benda-benda pusaka, termasuk buku Sutasoma dan Negara Kertagama, juga ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=33&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/puputan2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-35" src="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/puputan2.jpg?w=50&#038;h=61" alt="" width="50" height="61" /></a>Buku tentang Puputan Badung dari persepektif Belanda dan Bali. Tanpa kesimpulan jadi pilihan mengambang.</p>
<p>Peringatan seabad perang antara Belanda dan kerajaan Badung diperingati di Denpasar, Bali Rabu pekan lalu. Ribuan orang mengiringi arak-arakan Gerebek Aksara sepanjang sekitar 100 km dari Karangasem ke Denpasar. Selain mengarak benda-benda pusaka, termasuk buku Sutasoma dan Negara Kertagama, juga ada parade kerajaan-kerajaan nusantara. Perang yang dikenal dengan nama Puputan Badung itu dikenang sebagai salah satu peristiwa besar, setidaknya bagi warga Denpasar.</p>
<p>Meski dianggap peristiwa besar, catatan sejarah tentang perang pada 20 September 1906 itu termasuk kurang. Kalau toh ada, berupa bahasa Belanda atau geguritan Bali dan Jawa kuno, bahasa yang susah dimengerti sebagian besar orang Bali saat ini. Maka, peneliti sejarah Bali University of Queensland Australia Helen Creese, guru besar Sejarah Asia Erasmus University Rotterdam Belanda Henk Schulte Nordholt, dan dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali Darma Putra menghimpun bahan-bahan tentang Puputan Badung dalam satu buku. Buku itu diluncurkan sehari sebelum puncak peringatan seabad Puputan Badung.<span id="more-33"></span></p>
<p>Buku berjudul Seabad Puputan Badung, Persepektif Belanda dan Bali itu menghimpun catatan-catatan resmi tentang Puputan Badung. Laporan dari Belanda, antara lain laporan pimpinan ekspedisi militer Belanda Jenderal Rost van Tonningen, catatan embedded journalist HM van Weede, dan catatan prajurit Cees, yang terlibat dalam perang. Adapun catatan dari Bali yaitu catatan harian juru bahasa I Gusti Putu Jlantik, kidung geguritan Bhuwanawinasa, Babad Arya Tabanan, dan cerita salah satu keluarga raja Badung.</p>
<p>Meski menggunakan kata “Seabad” sebagai judul, buku ini tak memberikan penilaian apa pun atas peritiwa tersebut. Padahal kata “Seabad” menunjukkan adanya proses perjalanan waktu. Toh, Darma, Henk, dan Helen sama sekali tak memberikan kesimpulan, atau setidaknya bahan renungan, atas perang besar itu. Padahal dengan latar belakang yang berbeda, mereka seharusnya mampu memberikan renungan atas perang itu.</p>
<p>Darma Putra, selain aktif mengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana juga aktif sebagai wartawan dan menulis tentang sastra dan kebudyaan Bali. Henk sebagai kepala riset KITLV di Leiden saat ini juga intens meneliti perubahan kebudayaan Bali. Helen sudah menulis artikel tentang Bali di berbagai jurnal internasional. Akan menarik kalau penilaian Darma dari persepektif Bali bisa berdialektika dengan pendapat Henk dari persepektif Belanda dengan Helen sebagai “penengah”.</p>
<p>Nyatanya itu tak ada. Ketiga editor sejak awal sudah menegaskan itu. Penyajian sumber-sumber sejarah di buku ini tidak bertujuan memberikan penafsiran tertentu terhadap Puputan Badung. Analisis dan perenungan moral diserahkan sepenuhnya pada pembaca.</p>
<p>Maka, buku terbitan Pustaka Larasan, Denpasar setebal 196 halaman ini benar-benar hanya kumpulan tujuh sumber tentang Puputan Badung, tiga dari Belanda, empat dari Bali. Dua persepektif itu masing-masing jadi satu bagian disertai satu bagian khusus berisi foto-foto peristiwa.</p>
<p>Pengungkapan dua persepektif itu memberikan catatan dari dua sudut pandang berbeda. Misalnya tentang penyebab perang pertempuran yang berlangsung tak sampai dua jam itu. Versi Belanda menyebutnya karena kerajaan Badung membiarkan penjarahan pada kapal Sri Kumala yang terdampar di Sanur. Ketika diminta membayar denda 3000 ringgit akibat perampasan, raja Badung menolak.</p>
<p>Menurut Tonningen, penyerangan pada raja Badung juga dilakukan karena raja Badung tak mau menghapus adat mesatia, ritual istri raja ikut membakar diri hidup-hidup saat suaminya meninggal sebagai tanda kesetiaan. Penyebab lain berlarut-larutnya masalah perbatasan anatar Badung, Gianyar, dan Bangli. Tiga wilayah yang berbatasan itu sering bentrok.</p>
<p>Namun versi kerajaan Badung, permintaan denda itu hanya alasan yang dicari-cari. Raja Badung menolak tuntutan denda karena telah melakukan penyelidikan dan tidak ada orang Sanur yang merampas isi kapal, bahkan beberapa di antara mereka telah disumpah di Pura Tambang Badung. Bagi raja Badung, bukan besarnya denda yang jadi masalah tapi karena Belanda nyata-nyata menginjak kebebasan atau hak rakyat berupa kejujuran dan kebenaran. [hal 166]</p>
<p>Meski ada perbedaan perspektif, termasuk banyaknya jumlah korban, buku ini sama-sama menceritakan perang itu sebagai tragedi kemanusiaan. HM van Weede, wartawan yang ikut dalam perang menyebut kematian raja Badung dan anak buahnya akan masuk surga sebagai penghargaan atas keberanian mereka. [hal 79].</p>
<p>AA Sagung Putri Agung Kapandyan, yang tulisannya dikutip dalam buku ini memberi gambaran lebih detail tentang matinya kemanusiaan ini. Ada ibu-ibu kehilangan suami, ada bayi kehilangan kasih sayang.. [hal 184].</p>
<p>Dalam setiap perang, kemanusiaan memang selalu jadi korban. Mungkin itu yang bisa jadi kesimpulan.</p>
<p>sumber: Gatra/ Anton Muhajir</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indputra.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indputra.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indputra.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indputra.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indputra.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indputra.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indputra.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indputra.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indputra.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indputra.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indputra.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indputra.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indputra.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indputra.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indputra.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indputra.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=33&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/cerita-puputan-tanpa-kesimpulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c65a9dac30f3287301cb883dd9cd31?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">indputra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/puputan2.jpg?w=50" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>A Book Released to Commemorate &#8220;Puputan Badung&#8221; Centennial</title>
		<link>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/a-book-released-to-commemorate-puputan-badung-centennial/</link>
		<comments>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/a-book-released-to-commemorate-puputan-badung-centennial/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 04:13:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indputra.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[September this year marks the milestone that it is one hundred years ago of the war-end battle between the people of Badung (Denpasar) and the Dutch colonial army. This battle is known as &#8220;Puputan Badung&#8221;. &#8220;Puputan&#8221; literally means: &#8220;the End&#8221; and in this case it means: &#8220;a military suicide or sacrifice charge&#8221; The celebration of [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=31&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/puputan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-32" src="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/puputan.jpg?w=50&#038;h=61" alt="" width="50" height="61" /></a><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">September this year marks the milestone that it is one hundred years ago of the war-end battle between the people of Badung (Denpasar) and the Dutch colonial army. This battle is known as &#8220;Puputan Badung&#8221;. &#8220;Puputan&#8221; literally means: &#8220;the End&#8221; and in this case it means: &#8220;a military suicide or sacrifice charge&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">The celebration of the centennial war-end was very special, marked by various activities including sport competition, seminar, gamelan music contest, cultural parade, and dance and drama of the war reenactment. The last one was being held on Jalan Veteran, Denpasar, right on the spot where exactly 100 years ago, the war end (puputan) took place, 20 September 1906.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">The pre-text of the war is the wrecking of a Chinese ship carrying the Dutch flag on the beach of Sanur, 27 May 1904. The colonial Dutch government accused the people of Sanur that they confiscated goods of the ship and therefore must pay a fine.</span><span id="more-31"></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">The King of Badung, Tjokorda Ngurah Made Agung, who himself was a great literary writer, refused to pay the fine, and stood up against the Dutch oppressor. After the long fail of diplomatic attempts, the Dutch used this as a good reason to launch a military attack in order to conquer the last stance of Balinese kings of South Bali. More than a thousand people were killed during the war &#8211; end battle.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">The celebration of Puputan Badung started in 1973, but the 100 years anniversary was so special. One milestone of this centennial celebration is the publication of a book entitled Seabad Puputan Badung: Perspektif Belanda dan Bali (A Century of Puputan Badung: Perspectives of Dutch and Bali), jointly edited by scholars from three countries which are Henk Schulte Nordholt (Dutch), Helen Creese (Australia), and Darma Putra (Indonesia, Bali). The book launching was held on Tuesday (19/9) and followed by discussion on &#8220;puputan&#8221; at the Faculty of Letters, Udayana University.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">The book is special because it provides texts from both Bali and Holland. The Dutch sources include the military account of Dutch East Indies Army and the personal account of an embedded journalist, named H.M.van Weede. He joined the Dutch army and took photos. The Dutch sources were collected and selected by Prof Henk Schulte and he got them translated into Indonesian language. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Balinese sources were selected and edited by Prof Helen Creese. It includes a diary of a Balinese officer acting as translator and mediator for the Dutch, I Gusti Putu Djelantik from North Bali. There is also an article based on accounts of those involved in the war and oral narratives written by a descendant of the Denpasar Royal Palace, AA Sg Putri Kapandhyan. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Interestingly, Putri Kapandyan’s article focuses on an experience of a pregnant-woman who joined the war but escaped from death. She was saved by her family and had a baby. One of her grandchildren is the husband of the writer, Putri Kapandyan. &#8220;This is a very touching and interesting story of the Puputan. In history generally, woman roles are often overlooked,&#8221; said Darma Putra.<br />
The book also contains photos and a map of the palace before it was burned down during the war. Most of the photos used in the book are taken by van Weede and collected by the KITLV – Institute in Leiden &#8211; Holland. The aims of the book Seabad Puputan Badung is to provide the public with more historical sources, which are written by those, close to the war. &#8220;People in Bali know &#8220;Puputan&#8221;, but little can be read about it,&#8221; said Darma Putra. &#8220;We hope this book can be one of important references of the war that happened 100 years ago.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">&#8220;No interpretation is provided in the book, so it is the task of readers to make sense on their mind on the Puputan,&#8221; added Darma Putra, lecturer of Indonesian Department, Faculty of Letters, Udayana University, Bali. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">The editor handed over a book to the descendant of the King of Badung, Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pemecutan at his palace, last week. He welcomes the book as to provide good and rich sources for young generations, who want to know more about &#8220;Puputan&#8221;. The book, titled &#8220;Seabad Puputan Badung&#8221; is available at main book stores in Denpasar and Kuta. (BTN/*) </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><a href="http://www.bali-travelnews.com/Batrav/Batrav191/guide_9.htm">http://www.bali-travelnews.com/Batrav/Batrav191/guide_9.htm</a></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indputra.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indputra.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indputra.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indputra.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indputra.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indputra.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indputra.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indputra.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indputra.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indputra.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indputra.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indputra.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indputra.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indputra.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indputra.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indputra.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=31&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/a-book-released-to-commemorate-puputan-badung-centennial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c65a9dac30f3287301cb883dd9cd31?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">indputra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/puputan.jpg?w=50" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;The Father of Balinese Studies&#8221; Telah Pergi</title>
		<link>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/the-father-of-balinese-studies-telah-pergi/</link>
		<comments>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/the-father-of-balinese-studies-telah-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 00:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indputra.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[In Memoriam Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus (1933-2003) PROF I Gusti Ngurah Bagus, salah satu intelektual Bali yang penuh semangat, tak pernah puas, dan selalu menggugat, telah dipanggil Yang Mahakuasa, Kamis, 16 Oktober 2003 sore. Sudah sejak lama dia menderita komplikasi liver-diabetes, namun semangat intelektualnya yang tak pernah redup sampai akhir hayatnya seperti menutupi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=17&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">In Memoriam Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus (1933-2003) </span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;"></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/to-change-bali2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-24" src="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/to-change-bali2.jpg?w=70&#038;h=96" alt="" width="70" height="96" /></a><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">PROF I Gusti Ngurah Bagus, salah satu intelektual Bali yang penuh semangat, tak pernah puas, dan selalu menggugat, telah dipanggil Yang Mahakuasa, Kamis, 16 Oktober 2003 sore. Sudah sejak lama dia menderita komplikasi liver-diabetes, namun semangat intelektualnya yang tak pernah redup sampai akhir hayatnya seperti menutupi derita yang dialami tahun-tahun terakhir sehingga kepergiannya terasa sebagai sebuah ketiba-tibaan. Bali berduka!</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Selain keluarga yang ditinggalkan, duka cita juga bergema di almamaternya, Universitas Udayana, di kalangan mahasiswa program master dan doktor yang tengah dibimbingnya menulis tesis atau disertasi, serta di kalangan sarjana asing yang bergerak di bidang Balinese Studies (Kajian Bali). Selain pemikiran-pemikirannya yang radikal tentang kebudayaan, Ngurah Bagus akan dikenang atas jasanya karena berhasil untuk pertama kalinya di Indonesia membangun program studi Kajian Budaya (Cultural Studies) untuk jenjang master (1996) dan doktor (2001).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kajian Budaya yang menerima mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia inilah yang menjadi monumen akademik paling penting yang pernah didirikan Ngurah Bagus.</span><span id="more-17"></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Perjalanan panjang</span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Program Kajian Budaya yang multidisipliner yang dilahirkannya merupakan hasil perjalanan panjang karier keilmuan Ngurah Bagus. Setelah tamat SMA II Yogyakarta, Ngurah Bagus yang lahir 12 Juli 1933 dari keluarga puri (ningrat) di sisi utara Kota Denpasar melanjutkan ke Jurusan Sastra Timur Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (1953). Dari sana dia melanjutkan ke Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1959). Setelah belajar sastra di tingkat sarjana, Ngurah Bagus mempelajari ilmu bahasa di program pascasarjana Jurusan Linguistik Umum dan Nusantara di Universitas Leiden (Belanda). Dari jurusan bahasa, dia putar haluan untuk mendalami kebudayaan dengan menempuh program doktor di Jurusan Antropologi Universitas Indonesia (1979).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kalau pada akhirnya Ngurah Bagus dikenal sebagai guru besar antropologi, kompetensinya di bidang sastra dan linguistik ikut memperkokoh sosoknya sebagai intelektual multidisiplin.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Beragam ilmu yang dikuasainya membuat Ngurah Bagus menjadi intelektual yang sensitif terhadap fenomena yang berkembang, khususnya dalam kebudayaan dan masyarakat Bali. Salah satu penelitian pentingnya yang sangat maju (dalam arti orang lain belum memikirkannya ketika itu) adalah mengenai dampak pariwisata terhadap kebudayaan Bali. Studi Bali dalam Sentuhan Pariwisata ini dikerjakan awal tahun 1970-an bersama sarjana Amerika, Philip McKean, yang membahas gejala hippies yang berkembang di arena global dan merasuk ke Bali lewat pariwisata waktu itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kalau kemudian pemerintah Orde Baru dan masyarakat umum berbicara tentang dampak negatif pariwisata terhadap jati diri masyarakat, Ngurah Bagus sudah jauh era mengkhawatirkannya. Salah satu kesimpulannya waktu itu adalah daripada menolak pengaruh luar, Bali sebaiknya dengan sadar memperkokoh kebudayaannya. Makanya, siapa pun kini meneliti dampak pariwisata Bali, tidak bisa mengabaikan penelitian Ngurah Bagus dan kawan-kawan tiga dekade lalu itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dengan kepustakaan dan materi riset yang relatif lengkap, Ngurah Bagus bisa menemukan banyak informasi yang penting bagi dunia keilmuan. Di bidang sosial politik, Ngurah Bagus telah mengangkat peranan pemuda pejuang dalam revolusi Indonesia tahun 1940-an dan 1950-an, seperti ditulis dalam buku suntingan Hildred Geertz, State and Society in Bali, Historical, Textual and Antrophological Approaches (1991).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Di bidang sastra Indonesia modern yang berkembang di Bali, Ngurah Bagus-lah yang pertama kali menemukan drama berbahasa Melayu berjudul Kesetiaan Perempuan yang ditulis sastrawan Bali (anonim) tahun 1927, seperti bisa dibaca lewat kajiannya dalam buku suntingan Adrian Vickers, Being Modern in Bali, Image and Change (1996). Tulisan ini merangsang penelitian lebih lanjut tentang peran Bali dalam pertumbuhan sastra Indonesia dalam konteks kebangkitan nasionalisme, khususnya menjelang diangkatnya bahasa Melayu sebagai bahasa bangsa dalam Sumpah Pemuda 1928.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam sepuluh tahun terakhir, Ngurah Bagus juga melirik dunia seni pertunjukan dan seni lukis. Tulisan-tulisan dan komentarnya di kedua bidang ini membuat kuping seniman-seniman di Bali merah sekaligus bergairah. Ngurah Bagus mengkritik keras Pesta Kesenian Bali (acara pesta seni kolosal Bali tahunan sejak 1979) sebagai “jalan di tempat, tanpa lompatan estetis berarti”.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ngurah Bagus bukan saja peneliti dan pemikir, melainkan juga pembina. Dalam kapasitasnya sebagai dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana (Unud) dan Kepala Balai Penelitian Bahasa (dan Sastra) sejak akhir tahun 1960-an hingga pertengahan tahun 1980-an, Ngurah Bagus dengan sadar betul membina perkembangan sastra Bali modern. Kekagumannya melihat perkembangan sastra Jawa (modern) dan sastra Sunda mendorong Ngurah Bagus untuk meneliti perkembangan sastra Bali modern yang sudah berbenih sejak tahun 1910-an, namun hidup “bagai kerakap tumbuh di batu”.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ngurah Bagus memacu kehidupan sastra Bali modern dengan mengadakan berbagai perlombaan dan pembentukan kelompok pengarang (Sabha Sastra Bali). Hasilnya, tak hanya bahasa Bali hidup terus dalam bentuk tulisan, tetapi juga khazanah sastra Bali modern kian subur dan menjadi dokumen estetik masyarakat Bali yang berisi respons mereka terhadap perubahan sosial. Di era otonomi daerah di mana muatan lokal menjadi kebutuhan, khazanah sastra Bali modern telah menyiapkan diri untuk kepentingan dunia pendidikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Jasa Ngurah Bagus dalam membina sastra Bali modern dengan komitmen tinggi membuat Ketua Yayasan Rancage, Ajip Rosidi, untuk menganugerahi Ngurah Bagus Hariah Sastra Rancage tahun 1999. Tanpa sentuhan Ngurah Bagus, kehidupan sastra Bali modern pastilah jauh tenggelam dibandingkan dengan sastra Bali klasik/tradisional yang terus berkibar di era modern ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Minat-minatnya dalam berbagai bidang ilmu dan pembinaan menjadi landasan bagi Ngurah Bagus untuk mengembangkan Kajian Budaya, program studi yang pertama tumbuh di Inggris tahun 1960-an dan populer di seluruh dunia dalam dekade terakhir ini dengan berbagai mazhabnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Yang juga mempercepat proses Ngurah Bagus untuk mewujudkan Program Kajian Budaya di Unud adalah intensifnya dialog keilmuan Ngurah Bagus dengan sarjana luar negeri yang menunjukkan minat di bidang antropologi dan kajian budaya, seperti Mark Hobart dari School of Oriental and African Studies (SOAS) London, Carol Warren dan Adrian Vickers (Australia), serta Hildreet Geertz (Amerika).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dialog dengan sekian banyak sarjana asing yang datang ke Bali lewat program penelitian menambah keyakinan Ngurah Bagus untuk membuka Kajian Budaya di Universitas Udayana. Sosok dirinya yang multidisipliner dan semangat keilmuannya yang cenderung dekonstruktif menjadi ikon khas Kajian Budaya yang dibangunnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">“The father of Balinese Studies”</span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sejak lama Ngurah Bagus menjadi pintu masuk bagi calon doktor luar negeri yang hendak menjadikan Bali dengan segala aspek kehidupannya sebagai fokus riset dan studi. Dia tidak saja menjadi sponsor visa riset, tetapi juga menjadi kamus untuk kebudayaan Bali bagi peneliti asing. Perannya sebagai kamus kebudayaan Bali itu telah membuat seorang sarjana Belanda, Henk Schulte-Nordholt, menjulukinya sebagai “the father of Balinese Studies”. Menurut Henk, yang menjadi “the mother” adalah antropolog Amerika, Prof Hildred Geertz.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sebagai tanda terima kasih atas peran Ngurah Bagus dalam studi kebudayaan Bali, pada tahun 2000 para sarjana asing menerbitkan buku kumpulan karangan To Change Bali, Essays in Honour of I Gusti Ngurah Bagus, disunting Prof Dr Adrian Vickers dkk, dari University of Wollongong, Australia. Dalam buku inilah predikat Ngurah Bagus sebagai “the father of Balinese Studies” terpatri yang kelak akan dikenang terus.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kompetensi keilmuannya di bidang sastra, bahasa, budaya, agama, dan sosial telah membuat Ngurah Bagus kerap ditunjuk sebagai penguji disertasi mahasiswa program doktor di dalam dan luar negeri. Awal tahun 2003 ini, misalnya, Ngurah Bagus diundang ke Belanda untuk menjadi anggota penguji Maya HT Liem yang menulis disertasi berjudul The Turning Wheel of Time, Modernity and Writing Identity in Bali 1900-1970. Undangan ini membanggakan hati Ngurah Bagus karena memberikannya kesempatan untuk melakukan ziarah ke Leiden, kota tempatnya pernah menuntut ilmu.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Di sela-sela acara menjadi anggota penguji, Ngurah Bagus pun didaulat untuk memberikan ceramah tentang kondisi Bali pascatragedi bom di hadapan sarjana penekun studi Bali dan Indonesia pada umumnya. Bagi Ngurah Bagus, proses reformasi dan peledakan bom 12 Oktober 2002 merupakan alasan dan landasan bagi orang Bali untuk mengoreksi diri sebagai orang-orang yang kurang tertarik pada politik menjadi lebih politically active and strategic. Dalam konteks kebudayaan, seperti sering dikatakan dalam tulisan dan seminar-seminar, Ngurah Bagus mendesak agar Bali jangan “hanya menjadi tontonan”.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pandangan-pandangan Ngurah Bagus tentang kebudayaan dan masyarakat Bali memang tampak sesuai dengan spirit cultural studies yang dikembangkan. Dalam kajian budaya, Ngurah Bagus sepemikiran dengan koleganya, Mark Hobart, bahwa tugas sarjana tidak saja menjelaskan bagaimana kebudayaan dan media bekerja, tetapi lewat “analisis intervensi” (intervention analisys), dia juga harus mengubah pemikiran orang. Dengan kata lain, menjadi orang menjadi more active subject.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ngurah Bagus memiliki negative capability dan lewat kegelisahan itu dia menggugat berbagai pemahaman yang semu dan mapan tentang agama, tradisi, sastra, dan seni dalam konteks masyarakat Bali.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kegarangan Ngurah Bagus dalam menolak pemikiran orang lain dan menyampaikan gagasannya sendiri membuat orang lain enggan mendekatinya atau mengikuti konsep-konsepnya. Satu kendala yang sering dikeluhkan orang tentang Ngurah Bagus adalah karena ketidakberhasilan Ngurah Bagus mengartikulasikan pemikirannya dengan lugas. Ide-ide Ngurah Bagus yang kompleks selalu disampaikan secara kompleks juga. Ngurah Bagus banyak menulis karangan, tetapi karena tersebar dan merupakan kajian-kajian awal, jalan pemikirannya tidak mudah dirunut.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Seperti pernah dikatakan Teeuw, Ngurah Bagus memang seorang petualang, dalam arti mengepakkan sayap pemikirannya untuk menjelajahi berbagai ilmu dan aneka disiplin, mulai dari sastra, agama, budaya, sosial, seni, dan terakhir juga politik. Salah satu cita-citanya sebelum dipanggil Yang Mahakuasa, seperti disampaikan kepada Bali Post (8 Juni 2003), adalah membukukan karya-karyanya mengenai antropologi, linguistik, sastra, agama, dan kajian budaya. Konsep grand theory tentang kajian budaya sedang diperam terus, tetapi sayang belum sempat dituangkan dalam bentuk tulisan sampai akhir hayatnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sisi lain kehidupan Ngurah Bagus yang unik terlihat pada saat dia maju menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) utusan daerah di era reformasi. Jabatan ini seperti menjadi hadiah baginya yang ikut berdemonstrasi di tengah-tengah massa dan mahasiswa di Bali saat menjatuhkan Orde Baru. Dia tidak pernah merasa cukup untuk berjuang di kancah akademik.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Setelah pensiun dalam usia 70 tahun, per 31 Juli 2003, sebagai Guru Besar Universitas Udayana, Ngurah Bagus masih ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat dan bangsa. Dia pun mencalonkan diri menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan siap bertarung dalam Pemilihan Umum 2004. Pencalonannya menjadi DPD sudah lolos verifikasi KPU, namun perjuangan itu kini terhenti setelah keberangkatannya ke alam sana. Selamat jalan Prof Ngurah Bagus! Bali akan mengenangmu sebagai pemikir yang penuh vitalitas.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:right;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;" align="right"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">I Nyoman Darma Putra</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:right;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;" align="right"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kompas</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">, Minggu, 19 Oktober 2003 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indputra.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indputra.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indputra.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indputra.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indputra.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indputra.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indputra.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indputra.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indputra.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indputra.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indputra.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indputra.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indputra.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indputra.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indputra.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indputra.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=17&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/the-father-of-balinese-studies-telah-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c65a9dac30f3287301cb883dd9cd31?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">indputra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/to-change-bali2.jpg?w=70" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tourism, Development and Terrorism in Bali</title>
		<link>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/tourism-development-and-terrorism-in-bali-2/</link>
		<comments>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/tourism-development-and-terrorism-in-bali-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 00:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indputra.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Adrian Vickers &#62;&#62;&#62; http://blogs.usyd.edu.au/vicindonblog/bali_studies/ 16 May, 2007 I was excited to receive the new book by Michael Hitchcock and I Nyoman Darma Putra, Tourism, Development and Terrorism in Bali (Ashgate 200&#38;). This is more than a great overview of Bali in the last two decades, it includes some really good new material on internal conflicts [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=16&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:19.2pt;margin:6.8pt 0;"><span style="color:#333333;text-transform:uppercase;">Adrian Vickers &gt;&gt;&gt; </span><span>http://blogs.usyd.edu.au/vicindonblog/bali_studies/</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:19.2pt;margin:6.8pt 0;"><span style="color:#333333;text-transform:uppercase;">16 May, 2007</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6.8pt;text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/tourism-terrorism2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-21" src="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/tourism-terrorism2.jpg?w=46&#038;h=68" alt="" width="46" height="68" /></a><span>I was excited to receive the new book by Michael Hitchcock and I Nyoman Darma Putra, <em>Tourism, Development and Terrorism in Bali </em>(Ashgate 200&amp;). This is more than a great overview of Bali in the last two decades, it includes some really good new material on internal conflicts and the tension between Balinese self-perceptions and the way Bali is viewed within Indonesia. Although there is some unevenness in the chapters—probably the product of having two writers working at a distance—overall it provides a comprehensive account of the perils of Bali&#8217;s development processes. Most importantly, we are finally seeing more works come out with Balinese authors or co-authors, reversing the earlier trend of us Westerners speaking on behalf of Balinese.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indputra.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indputra.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indputra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indputra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indputra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indputra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indputra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indputra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indputra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indputra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indputra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indputra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indputra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indputra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indputra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indputra.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=16&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indputra.wordpress.com/2008/05/28/tourism-development-and-terrorism-in-bali-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c65a9dac30f3287301cb883dd9cd31?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">indputra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/tourism-terrorism2.jpg?w=46" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tourism, Development and Terrorism in Bali</title>
		<link>http://indputra.wordpress.com/2008/05/27/tourism-development-and-terrorism-in-bali/</link>
		<comments>http://indputra.wordpress.com/2008/05/27/tourism-development-and-terrorism-in-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 23:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indputra.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Important New Book Examines Bali&#8217;s Response to Terrorism and Economic Upheaval. (5/29/2007) Two well-known academicians have explored the development of tourism and Bali&#8217;s economy dating from the Asian financial crisis of the late 1990s and the series of crises that have plagued Bali through the opening years of the new millennia. &#8220;Tourism, Development and Terrorism [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=14&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="background:#fffff9 none repeat scroll 0;margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="color:#993300;">Important New Book Examines Bali&#8217;s Response to Terrorism and Economic Upheaval. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/tourism-terrorism4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-23" src="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/tourism-terrorism4.jpg?w=46&#038;h=68" alt="" width="46" height="68" /></a><em><span style="color:#333333;">(5/29/2007) </span></em><span style="color:#333333;">Two well-known academicians have explored the development of tourism and Bali&#8217;s economy dating from the Asian financial crisis of the late 1990s and the series of crises that have plagued Bali through the opening years of the new millennia. <em>&#8220;Tourism, Development and Terrorism in Bali&#8221;</em> by <em>London Metropolitan University&#8217;s</em> Professor Michael Hitchcock and <em>University of Queensland&#8217;s</em> Dr. I Nyoman Darma Putra, examines government and community responses to the &#8220;troubles&#8221; that have befallen the world&#8217;s most popular holiday destination over the past decade.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:#333333;">With a particular emphasis on crisis management in the wake of the Bali bombings, Hitchcock and Darma Putra not only look at the impact of the bombings on tourism development in Bali, but also attempt to explore the root causes of the attack within the larger context of Indonesian politics and the global rise of political Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Separately, the authors visit growing local resistance in Bali to globalization, including opposition to efforts to add Bali&#8217;s Mother Temple of Besakih to the United Nation&#8217;s list of World Heritage Sites.</span><span id="more-14"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>What the Critics Say</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>• <strong>Richard Butler, Professor of International Tourism, University of Strathclyde, UK</strong> &#8211; <em>&#8220;This is an important book for anyone seriously interested in the relationships between the key forces of tourism, globalization and cultural survival and the way they shape tourist destinations. It is made all the more relevant by a uniquely detailed examination of the impacts of terrorism on one such major tourist destination and its response.&#8221;</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>• <strong>Professor Adrian Vickers, University of Sydney, Australia</strong> &#8211; <em>&#8220;This is the first comprehensive study of Bali in fifteen years, and most importantly the first book since the Bali bombings to explain not only the impact of those bombings, but also the factors in Bali that led to them. This book provides unique insights into how Balinese perceive themselves in these contexts, and how they have reacted to those pressures.&#8221;</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span>Tourism, Development and Terrorism in Bali</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span>By Michael Hitchcock and I Nyoman Darma Putra from the <em>Voices in Development Managements Series.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span>Price: £55 or US$99.95</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span>ISBN: 0 7546 4866 4</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12.9pt;text-align:right;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:8pt;color:#993300;">sources:http://www.balidiscovery.com/messages/message.asp?Id=3830</span></p>
<div><span style="color:#333333;"> </span></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indputra.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indputra.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indputra.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indputra.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indputra.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indputra.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indputra.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indputra.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indputra.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indputra.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indputra.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indputra.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indputra.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indputra.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indputra.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indputra.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=14&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indputra.wordpress.com/2008/05/27/tourism-development-and-terrorism-in-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c65a9dac30f3287301cb883dd9cd31?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">indputra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/tourism-terrorism4.jpg?w=46" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Bali &#8221;Tempo Doeloe&#8221; Itu Pemberani</title>
		<link>http://indputra.wordpress.com/2008/05/27/wanita-bali-tempo-doeloe-itu-pemberani/</link>
		<comments>http://indputra.wordpress.com/2008/05/27/wanita-bali-tempo-doeloe-itu-pemberani/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 23:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indputra.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Dalam suasana menyambut Hari Kartini atau hari lahirnya Raden Ajeng Kartini, 21 April besok, ada baiknya merenungkan kiprah wanita Bali sejak dulu hingga kini. Adakah wanita Bali lemah, pendiam, terbelakang dan nrimo? Atau, justru agresif dan pemberani dalam memperjuangkan aspirasi kaumnya untuk mencapai kesetaraan gender? SEBAGIAN jawaban terhadap pertanyaan tersebut terungkap dalam buku baru tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=10&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/cover-20033.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-26" src="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/cover-20033.jpg?w=44&#038;h=60" alt="" width="44" height="60" /></a><strong><span style="color:black;">Dalam suasana menyambut Hari Kartini atau hari lahirnya Raden Ajeng Kartini, 21 April besok, ada baiknya merenungkan kiprah wanita Bali sejak dulu hingga kini. Adakah wanita Bali lemah, pendiam, terbelakang dan nrimo? Atau, justru agresif dan pemberani dalam memperjuangkan aspirasi kaumnya untuk mencapai kesetaraan gender?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="color:black;">SEBAGIAN</span></strong><span style="color:black;"> jawaban terhadap pertanyaan tersebut terungkap dalam buku baru tentang wanita Bali, berjudul &#8220;Wanita Bali Tempo Doeloe, Perspektif Masa Kini&#8221; karya I Nyoman Darma Putra, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana. Dalam buku ini, Darma Putra tegas mengatakan bahwa wanita Bali &#8220;tempo doeloe&#8221; sangat vokal dan berani menyampaikan aspirasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Buktinya? &#8220;Mereka berani berserikat membentuk organisasi sosial untuk menolong kaumnya, baik lewat pendidikan maupun gerakan sosial memprotes ketidakadilan gender yang menomorduakan wanita,&#8221; ujar Darma Putra, yang baru saja meraih gelar doktor dari School of Languages and Comparative Cultural Studies, University of Queensland, Australia. Yang dimaksud &#8221;tempo doeloe&#8221; dalam buku ini adalah era dari zaman kolonial sampai dengan dekade awal kemerdekaan, 1950-an. Menurut Darma Putra, wanita terpelajar Bali tahun 1930-an, ketika Indonesia masih dijajah Belanda, berani tampil membentuk organisasi Poetri Bali Sadar (PBS) yang gerakannya ditujukan secara khusus untuk membantu kaum wanita agar bisa meraih kemajuan seperti kaum laki-laki.</span><span id="more-10"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Pembentukan PBS merupakan reaksi dari dua kenyataan. Pertama, tahun 1930-an, banyak wanita Bali yang masih buta huruf, tidak mau bersekolah karena bagi mereka dan masyarakat umumnya, wanita tidak perlu sekolah. Tugas utama mereka adalah mengurus anak dan rumah tangga. Kedua, PBS dibentuk karena organisasi Bali Darma Laksana yang terlebih dahulu ada terlalu memfokuskan kegiatannya untuk laki-laki. &#8220;Wanita terpelajar yang aktif di Bali Darma Laksana akhirnya membentuk organisasinya sendiri. Berdirilah Poetri Bali Sadar, 1 Oktober 1936,&#8221; ujar Darma Putra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Salah satu tokoh pendiri PBS yang masih hidup sampai sekarang adalah I Gusti Ayu Rapeg, istri mantan pejabat Gubernur Bali I Gusti Putu Merta. Namun, ketika membentuk organisasi itu, Rapeg masih sangat muda, baru pulang dari sekolah di Blitar, Jawa Timur. Dia dan aktivis PBS kebanyakan bekerja sebagai guru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Menurut Darma Putra, keberanian wanita Bali &#8220;tempo doeloe&#8221; juga besar artinya kalau dilihat dari kerasnya tekanan penjajah Belanda. &#8220;Belanda tidak ingin ada organisasi dinamis, yang membuat masyarakat sadar bahwa penjajah itu jelek. Tetapi, wanita terpelajar kita waktu itu bisa mendirikan organisasi, bukankah mereka hebat?&#8221; tambah Darma Putra mencoba memberikan persepsi baru citra wanita Bali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Aktivis PBS juga memprotes poligami, memprotes eksploitasi wanita telanjang dada untuk promosi pariwisata seperti muncul dalam sejumlah postcard. Protes mereka disampaikan dalam artikel yang dimuat di majalah waktu itu. &#8220;Memang banyak wanita Bali yang menjadi penulis waktu itu,&#8221; kata Darma Putra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="color:black;">Terjun ke Politik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Menurut Darma Putra, keberanian wanita terpelajar Bali untuk menyuarakan aspirasi kaumnya berlanjut terus tahun 1940-an dan sampai 1950-an. Pada zaman revolusi, banyak yang menjadi pejuang, terlibat dalam organisasi sosial, dan kemudian berani terjun ke dunia politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Dalam buku ini, penulisnya mengungkapkan bahwa awal tahun 1950-an, di DPRD Bali sudah tercatat tiga anggota DPRD wanita. &#8220;Ini kan suatu kemajuan, dibandingkan sekarang hanya ada satu wanita di DPRD Bali. Bukankah ini cukup untuk mengatakan bahwa wanita Bali &#8216;tempo doeloe&#8217; tak kalah majunya dengan wanita kini?&#8221; tanya Darma Putra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Tentang apakah pasca-Pemilu 2004 nanti wanita bisa mengisi kuota kursi 30% di DPRD, Darma Putra menyatakan pesimismenya. Alasannya, wanita Bali kini jarang sekali yang terjun ke dunia organisasi pada umumnya, atau partai politik khususnya. Dia menegaskan bahwa hal ini merupakan kemunduran. &#8220;Kalau di dunia profesi lainnya, memang banyak wanita kini mengalami kemajuan, tetapi di bidang politik dan berserikat mereka kalah dengan wanita Bali tempo doeloe,&#8221; tambahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Buku karya Darma Putra ini, menurut Wayan Kejit Arnaya dari Yayasan Bali Jani yang menerbitkan buku ini, mencoba memberikan persepsi baru tentang kedudukan sosial wanita di masyarakat Bali. &#8220;Isi buku ini sesuai dengan misi yayasan kami untuk memajukan harkat dan martabat wanita Bali di berbagai bidang,&#8221; kata Kejit Arnaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Meski demikian, Kejit Arnaya berpendirian bahwa akan jauh lebih baik artinya kalau apa yang disampaikan Darma Putra dalam buku ini bisa dikaji bersama. Untuk itulah, Yayasan Bali Jani akan membedah isi buku ini pada Senin (21/4) besok, tepat pada Hari Kartini. Acara bedah buku yang akan dipandu Wayan P. Windia ini dilaksanakan di Museum Pendet, Nyuh Kuning, Ubud pukul 16.00 wita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Sementara itu Wayan P. Windia berpendapat, banyak sisi gelap wanita Bali yang terungkap dalam buku ini. &#8220;Tetapi, kita memerlukan upaya yang lebih kuat lagi untuk mengenal wanita Bali lebih komplit dari dulu hingga kini,&#8221; kata pengamat adat Bali ini. <strong>(tin)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>sumber: <em>Bali Post</em>, Minggu, 20 April 2003, hlm. 1</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indputra.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indputra.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indputra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indputra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indputra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indputra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indputra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indputra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indputra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indputra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indputra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indputra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indputra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indputra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indputra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indputra.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=10&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indputra.wordpress.com/2008/05/27/wanita-bali-tempo-doeloe-itu-pemberani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c65a9dac30f3287301cb883dd9cd31?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">indputra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/cover-20033.jpg?w=44" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Bali Tempo Dulu Menafsir Emansipasi</title>
		<link>http://indputra.wordpress.com/2008/05/27/wanita-bali-tempo-dulu-menafsir-emansipasi/</link>
		<comments>http://indputra.wordpress.com/2008/05/27/wanita-bali-tempo-dulu-menafsir-emansipasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 22:16:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indputra.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Cita-cita perjuangan R.A. Kartini sesungguhnya sudah masuk dalam wacana tentang kesetaraan gender di kalangan wanita intelektual Bali pada tahun 1930-an. Tak hanya pemikirannya, nama Kartini juga sering disebut dalam artikel-artikel yang ditulis wanita Bali pada masa itu. Hal ini berlanjut terus tahun 1950-an, bahkan lebih frekuentif dan intensif. Bedanya, pada era 1930-an, sketsa wajah Kartini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=4&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/wanita-bali-cover4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-29" src="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/wanita-bali-cover4.jpg?w=109&#038;h=150" alt="" width="109" height="150" /></a><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Cita-cita perjuangan R.A. Kartini sesungguhnya sudah masuk dalam wacana tentang kesetaraan gender di kalangan wanita intelektual Bali pada tahun 1930-an. Tak hanya pemikirannya, nama Kartini juga sering disebut dalam artikel-artikel yang ditulis wanita Bali pada masa itu. Hal ini berlanjut terus tahun 1950-an, bahkan lebih frekuentif dan intensif. Bedanya, pada era 1930-an, sketsa wajah Kartini tak pernah muncul dalam majalah.</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;"></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">INILAH cuplikan gambaran wanita Bali tempo dulu yang ditulis I Nyoman Darma Putra dalam buku “Wanita Bali Tempo Doeloe, Perspektif Masa Kini” ini. Di buku yang kini sudah memasuki cetakan kedua ini, Darma Putra bermaksud menyelamatkan tulisan-tulisan yang dibuat wanita Bali tempo dulu, agar pesan yang hendak mereka sampaikan dapat dijadikan bahan renungan. Hal ini terkait dengan ramainya muncul wacana kesetaraan gender dalam kehidupan sosial dewasa ini.<span><!--[endif]--></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Lantas, kembali persoalan menarik tadi, mengapa pada era 1930-an sketsa wajah Kartini tak pernah muncul dalam majalah? “Hal ini terjadi mungkin karena teknik cetak majalah belum begitu maju seperti saat itu. Baru pada era 1950-an, sketsa wajah Kartini dicetak lewat majalah-majalah mengiringi pembahasan terhadap perjuangan dan pikirannya,” demikian tulis Darma Putra.</span><span id="more-4"></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/sepeda3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-30" src="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/sepeda3.jpg?w=300&#038;h=205" alt="" width="300" height="205" /></a><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Selanjutnya disebutkan, majalah Bhakti dan Damai yang terbit kala itu lantas berulang-ulang memuat gambar wajah R.A. Kartini, misalnya sebagai cover majalah atau ilustrasi artikel di halaman dalam. Kedua majalah itu sering tampil dengan “edisi Kartini” untuk penerbitan bulan April, berdekatan dengan peringatan hari Kartini 21 April. Pada edisi khusus itu, dimuat banyak artikel tentang wanita, tentang Kartini dan tentang gerakan wanita internasional. Pembahasan tentang isu wanita menjadi lebih mendalam dan luas.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Perihal istilah emansipasi, itu muncul dalam sejumlah artikel yang dimuat di rubrik “Ruangan Wanita” di kedua majalah tersebut. Emansipasi di situ diartikan sebagai “persamaan hak-hak”. Sementara pada tahun 1930-an, walaupun semangat kesetaraan perempuan dengan laki-laki di bidang pendidikan dan kehidupan sosial banyak dibahas, istilah emansipasi memang belum muncul.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Penggunaan istilah emansipasi misalnya, bisa dilihat dalam tulisan Asri yang dimuat di majalah Bhakti terbitan 1 Januari 1953. Di situ, Asri menyebutkan tokoh-tokoh pejuang wanita secara internasional, menyebutkan tokoh-tokoh pejuang wanita dunia, sebelum akhirnya menguraikan cita-cita Kartini dan pengertian emansipasi serta model wanita atau ibu ideal dalam konteks Indonesia.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Asri mensejajarkan kedudukan Kartini dengan tokoh pejuang wanita dunia. Dia menulis, “Jika Amerika punya Eleanor Roosevelt, Rusia punya Pauline Molotov, India punya Vijaya Laksmi Pandit, maka bagi kita di Indonesia punya Ibu Kartini. Seorang bangsawan putri yang di lingkar tembok tebal, keinsafan dan semangatnya pun adalah setebal tembok yang memagarinya pula.”</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Atas fenomena ini, Darma Putra lantas mengulas kesadaran akan ketokohan Kartini bisa dilihat sebagai modal dasar utama dalam pergerakan memajukan kaum wanita Indonesia. Perjuangan wanita Indonesia mendapat inspirasi dari cita-cita Kartini. Perjuangan yang dicanangkan Kartini belum usai, namun cita-cita itu diteruskan oleh organisasi wanita seperti Wanito Oetomo, Poetri Indonesia, hingga Wanito Moelio. “Organisasi wanita Bali yang ada pada tahun 1930-an, Poetri Bali Sadar, tidak disebutkan secara eksplisit dalam artikel ini,” tulis Darma Putra.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Berbagai isu sekitar kesenjangan kedudukan wanita di masyarakat menjadi masalah perjuangan organisasi itu. Mereka misalnya ikut membicarakan secara serius adat poligami yang banyak dibahas tahun 1950-an dari sudut pandang agama. Ketika sampai pada topik emansipasi, dalam tulisan Asri, disebutkan bahwa kesadaran akan persamaan hak hanya ada di kalangan wanita intelek. Pernyataan ini tak hanya melukiskan ketimpangan, tetapi juga harapan agar kesadaran emansipasi bisa merata di berbagai lapisan kaum wanita.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Asri melihat bahwa pengertian emansipasi perlu diluruskan. Emansipasi, tulis Asri, menuntut adanya hak-hak sebagai manusia yang diperkosa oleh kaum laki-laki, atau dengan lain kata, usaha wanita melepaskan diri dari perbudakan kaum laki-laki. “Perjuangan persamaan hak harus dibedakan dengan perjuangan persamaan gaya,” papar Asri.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Disinyalemen masih banyak wanita pada masa itu yang salah paham dengan emansipasi. Emansipasi adalah usaha perjuangan persamaan hak, bukan persamaan gaya. Sebagai ilustrasi disebutkan bahwa wanita yang memperjuangkan emansipasi bukanlah untuk bisa berpakaian secara laki-laki, merokok, menyetir otot, tenis, piknik, dan berdansa. Menurut Asri, jika wanita berusaha untuk tampil seperti itu, itu artinya mereka memperjuangkan persamaan gaya, bukan persamaan hak.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Wanita yang mengejar persamaan gaya, menurut Asri, condong menjadi wanita cantik dan modern. Wanita seperti ini justru menambah beban suami. Mereka sering mengorek kantong suami untuk memuaskan diri memenuhi gaya hidup modern. Ia tak sanggup hidup dengan suami yang berpenghasilan kecil. Wanita yang haus akan kegemerlapan dan foya-foya suatu saat akan terbang bagai kupu-kupu kalau suaminya tidak mampu memenuhi kebutuhan materialnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">“Wanita yang tipe ini adalah contoh wanita yang keluar dari rel atau menyimpang dari tujuan perjuangan untuk kaum wanita yang sudah diperjuangkan berabad-abad,” demikian Asri seraya menegaskan bahwa emansipasi harus diarahkan untuk melenyapkan adanya anggapan dan perbuatan sewenang-wenang dari kaum laki-laki yang di luar perikemanusiaan.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Penegasan cita-cita Kartini dan emansipasi juga ditulis oleh Ni Jasmin Oka di majalah Damai terbitan 17 April 1953. “Jasa Kartini bukan terletak pada apa yang diwujudkan waktu hidupnya. Jasanya justru terletak pada cita-citanya yang tinggi dan luhur, untuk kebangkitan kaum dan bangsanya,” tulis Oka.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelaan kritis terhadap pemikiran Kartini terutama mengenai dugaan bahwa Kartini terlalu memalingkan muka ke Barat dalam soal emansipasi juga ditulis Jasmin Oka. Hal itu, menurutnya, bukanlah dimaksudkan untuk menjelma sebagai orang Barat. “Namun, untuk mengambil dari Barat sifat-sifat yang dapat memajukan lingkungannya sendiri dengan tidak melahirkan sifat-sifat dan kebudayaan asli, supaya dapat ikut melangkah dengan bagian dunia lainnya,” pendapat Oka.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pemikiran Asri maupun Jasmin Oka, menurut Darma Putra, menunjukkan bahwa kalangan wanita intelektual Bali tempo dulu ikut aktif menafsirkan cita-cita Kartini terkait dengan konteks perkembangan zamannya. “Jika dilihat dari sudut pandang dewasa ini, beberapa penafsiran mereka tentang emansipasi tampak terlalu sempit seperti halnya pendapat yang tidak merestui wanita mengendarai mobil. Namun, banyak juga yang masih relevan dengan situasi sekarang, misalnya tentang perlunya kita terbuka dengan nilai Barat untuk meraih kemajuan tanpa melalaikan budaya sendiri,” demikian Darma Putra. (tin)</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">sumber:http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2007/4/22/b18.html</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indputra.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indputra.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indputra.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indputra.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indputra.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indputra.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indputra.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indputra.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indputra.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indputra.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indputra.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indputra.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indputra.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indputra.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indputra.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indputra.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indputra.wordpress.com&amp;blog=3788036&amp;post=4&amp;subd=indputra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indputra.wordpress.com/2008/05/27/wanita-bali-tempo-dulu-menafsir-emansipasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c65a9dac30f3287301cb883dd9cd31?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">indputra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/wanita-bali-cover4.jpg?w=109" medium="image" />

		<media:content url="http://indputra.files.wordpress.com/2008/05/sepeda3.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
